Lompat ke isi utama
x

Webinar ke-3 Pusat Riset PPLH-SDA Unsyiah "Menyambut Hari Konservasi alam Nasional"

Pada webinar ke 3 ini tanggal 10 Agustus mulai pukul 09.00-12.00 WIB, Pusat riset lingkungan hidup bekerjasama dengan forum masyarakat konservasi tanah dan air Indonesia memperingati hari Konservasi Alam Nasional dengan menghadirkan pakar dibidang Konservasi dan Hukum. 

Webinar ke-3 oleh Tim PPLH Unsyiah ini mengundang beberapa pakar nasional dalam bidang lingkungan yaitu:

Prof. Dr. Ir. Kukuh Murtilaksono, M.Sc

Guru Besar Ilmu Tanah IPB, Ketua MKTI Pusat

Dr. Ir. hairul Basri, M.S

Dosen Fakultas Pertanian Unsyiah, Ketua MKTI Aceh

Dr. Zahratul Idami, S.H., M.Hum

Dosen Fakultas Hukum, Dosen Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik

Prof. Dr. Ir.Kukuh Murtilaksono M.Sc, Guru besar Ilmu Institute pertanian Bogor sekaligus ketua masyarakat Konservasi Tanah dan Air Indonesia. Salah satu Bencana yaitu banjir penyebab utama apakah  faktor meteorologis yakni unsur curah hujan terutama intensitas hujan, distribusi hujan dan durasi hujan, atau faktor sifat-sifat fisis dari permukaan tanah, kandungan air tanah dan permukaan tanah (apakah tanah gundul, tanah bervegetasi dan lain-lain).  Pada kesempatan ini beliau mengupas bagaimana peran akademisi dan kelembaaan dalam upaya mitigasi bencana hidrologis melalui konservasi tanah dan air sebagai wujud pelestarian lingkungan.

Pemateri kedua : Bapak Dr. Ir. Hairul Basri M.Sc dari Fak Pertanian Unsyiah ketua MKTI Cabang Aceh sekaligus Ketua Jurusan Ilmu Tanah Fak. Pertanian Unsyiah. Hadir juga narasumber ibu Dr. Zahratul Idami ahli dibidang hukum salah satu anggota devisi di Pusat Riset Lingkungan hidup Unsyiah.

Berbicara konservasi alam akan terbayang dikita  bagaimana manajemen yang bijaksanan untuk melindungi dan melestarikan alam sehingga komponen lingkungan dapat dipertahankan dan dimanfaatkan oleh generasi yang akan datang ujar Dr. Ichwana dalam kata sambutannya mewakili Ketua Pusat Riset Pengelolaan Lingkungan hidup Universita Syiah Kuala.

Salah satu usaha yang giat-giatnya dilakukan pemerintah adalah Pemberdayaan masyarakat yang menumbuhkan  kemandirian masyarakat dalam pengelolaan lingkungan  Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan terkait DAS sudah  terbukti dengan dicantumkannya pasal-pasal tentang pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan DAS di dalam peraturan perundangan yang berkaitan dengan pengelolaan DAS yaitu Undang-Undang No. 37 Tahun 2014 Tentang Konservasi Tanah dan Air, serta Peraturan Pemerintah No. 37 tahun 2012 tentang Pengelolaan DAS. Kemudian pada tahun 2014, Menteri Kehutanan juga mengeluarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.17/Menhut-II/2014 yang secara khusus mengatur tentang tata cara pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan DAS. Bahkan sebelum dikeluarkannya peraturan-peraturan tersebut, pemerintah juga telah melakukan kegiatan-kegiatan sejak 1979-1983 giat dengan reboisasi, kemudian sampai sekarang ada Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL), Gerakan Nasional Kemitraan Penyelamatan Air (GN-KPA), Pengembangan Usahatani Konservasi Lahan Terpadu (PUKLT), dan pembangunan Areal Model DAS Mikro (MDM), KPH (kesatuan Pengelolaan Hutan) dll. 

Apa yang menyebabkan manusia melanggar hukum-hukum alam? Bagaimana kita menjaga alam dari sudut pandang perundang-undangan dan  hukum Islam?. Filosofi ini dibahas oleh bu Ida (panggilan akrab) 

Kita juga akrab dengan selogan “alam dapat menjaga dirinya sendiri, manusia memiliki kecerdasan untuk memanfaatkan alam, namun lebih berharga jika manusia membantu menjaga dan merawat alam. Sehingga sangat diharap dengan semangat hari demi hari kita harus terus berpikir bagaimana cara agar generasi dimasa yang akan datang masih merasakan nikmatnya air… dan menghindari kejadian yang ditampilkan oleh para narasumber. Diakhir kata sambutan Dr. Ichwana mengulang kembali kata-kata dari konservasi Leuser… Setetes air sangat berharga, mari kita lestarikan dan berdayakan  karena jika sungai terakhir mengering maka kita baru sadar bahwa uang tak dapat dimakan.